Orangtua Berpisah Anak Jadi Korban, Lakukan Cara Ini Agar Mereka Nyaman

Orangtua yang bercerai mampu mendatangkan luka dalam bentuk psikis bagi anak-anak dalam rumah tangga keluarga yang mengalaminya. Tentu, sulit bagi anak untuk memahami keputusan berpisah yang diputuskan oleh kedua orangtua mereka. Lalu, bukan tidak mungkin bagi anak-anak yang akan menganggap diri mereka lah yang bersalah dalam keadaan tersebut.

Anak memang kerap menjadi korban dari hubungan suami istri yang tidak harmonis. Tidak ada yang bisa mengingkari hal tersebut bukan? Dan tidak juga ada yang bisa menghindarinya. Dampak kepada anak sudah menjadi konsekuensi sebuah keputusan cerai yang diambil oleh kedua orangtuanya. Kendati demikian, orangtua masih bisa meminimalkan dampak buruk di hati buah hati mereka.

Untuk mengetahui hal tersebut, anda bisa menyimak artikel ini sebagai informasi yang bisa anda sarankan kepada keluarga atau orang terdekat anda yang mengalaminya. Berikut cara yang bisa dilakukan untuk dapat menyakinkan para anak yang mengalami masalah dalam hubungan kedua orangtuanya :

1. Yakinkan anak bahwa dia selalu dicintai

Ketika salah satu orangtua tidak dapat memenuhi jadwal kunjungan kepada anaknya, dari situlah si anak mulai  sering menyalahkan diri mereka sendiri atas kejadian yang dialami orangtuanya. Mereka akan berpikir, andai saja mereka jadi anak yang lebih baik tentu perceraian orangtuanya tak terjadi.

”Hasilnya, kepercayaan diri si anak melorot,” kata Edward Teyber, Profesor psikologi di California State University, San Bernadino dan penulis buku Helping Children Cope With Divorce. Dalam kondisi semacam ini, orangtua perlu terus meyakinkan anak bahwa dia dicintai sama seperti dulu. Katakan kepada mereka, “ayah membatalkan janji padahal sangat ditunggu, itu salah. Tapi biar bagaimana pun ayah tetap sangat mencintaimu.” Cobalah katakan hal itu untuk bisa menenangkan hati dan pikiran sianak tersebut.

2. Jangan Bersikap Tertutup

Orangtua kadang bersikap tidak konsisten dan anak bisa mengetahuinya. Misalnya, orangtua tak bisa mengunjungi anak karena alasan flu. Namun di hari yang sama, orangtua bisa ke kantor dan menjalani rapat. “Anda tak perlu membela, atau menutupi kondisi mantan Anda kepada anak.”

“Biarkan anak mengekspersikan kekecewaannya kepada ayahnya atau ibunya, karena ingkar janji,” kata terapis keluarga M. Gary Neuman. “Neuman” adalah pencipta program terapi perceraian Sandcastles dan penulis buku Helping Your Kids Cope With Divorce the Sandcastles Way.

3. Miliki rencana cadangan

Orangtua yang tinggal bersama anak kadang harus siap dengan rencana cadangan bila pihak orangtua yang lain sering mengingkari janji pertemuan dengan anak. Anda bisa mengajak mereka ketempat yang mereka senangi dan membuat mereka lupa akan jadwal pertemuannya seperti, pergi menonton, berjalan-jalan ke mal, berenang, bersepeda bersama, berkemah di halaman, dan kegiatan lain yang disukai anak.

Putuskan berapa lama kalian akan menunggu ibu atau ayahnya datang. Misalnya kalian akan menunggu selama 30 menit. Maka katakan begini ”kita akan menunggu ibumu/ayahmu selama 30 menit. Jika dia tidak datang, mari kita pergi menonton.” Jika anak mengungkapkan kekecewaannya, dengarkan saja, tanpa perlu menghakimi pihak manapun.

4. Dorong anak untuk berbicara

bicara

Saat salah satu orangtua yang sudah berpisah mengecewakan anak, orangtua yang satunya dapat mendorong anak untuk bicara langsung. Berbicara akan mengurangi rasa frustasi mereka. Jika anak belum siap untuk bicara langsung dengan ayah atau ibu yang mengecewakannya, tawarkan pilihan untuk menulis surat atau email.

5. Jadilah fleksibel

Jika sebagai orangtua yang tidak lagi tinggal bersama anaknya karena perceraian, dan kebetulan berhalangan memenuhi jadwal pertemuan dengan si buah hati, tawarkan hari lain sebagai kompensasi. Jika anak tidak setuju dengan jadwal yang Anda tawarkan, tanyakan kepadanya hari apa yang dianggapnya paling baik untuk bertemu.

Setelah mendapat kesepakatan, mintalah persetujuan dari mantan Anda alias ayah atau ibu yang memegang hak asuh anak. Penting bagi anak untuk tahu bahwa salah satu orangtuanya yang pergi meninggalkan rumah, menganggap pertemuan dengannya sebagai hal yang super penting.

6. Ciptakan dukungan lingkungan yang kuat

lingkungan

Bekerjasamalah dengan orang dewasa lain yang peduli dengan anak Anda dalam pengasuhannya sehari-hari. Terutama, di saat suasana masih dalam keadaan ‘panas’ dan anak masih terguncang. Kehadiran mereka akan menambal peran orangtua yang ‘hilang’ dalam keseharian anak. Plus membantu Anda melewati masa duka.

7. Jangan bertengkar di depan anak

Penelitian membuktikan, jika anak yang melihat langsung pertengkaran orangtua mereka, maka akan lebih sulit untuk membuat mereka beradaptasi dengan kondisi yang baru, dibandingkan anak yang orangtuanya yang tidak berkelahi di depan mereka.

8. Transisi dengan damai

orang-tua-dan-anak

Meski orangtua sudah menjaga agar anak tidak tahu konflik ayah dan ibunya, anak tetap bisa merasakan suasana kaku dan tegang di antara kedua orangtua. Survei di Amerika Serikat menemukan, cukup banyak ayah-ayah yang bercerai akhirnya memutuskan untuk tidak menemui anaknya karena enggan bertemu mantan istri yang dianggap bersikap sinis.

Harusnya, setelah resmi bercerai kedua orangtua sama-sama berusaha mendinginkan emosi. Tidak perlu berteman baik jika memang tidak bisa, cukup bersikap rasional dan tenang ketika mantan datang ke rumah untuk menjemput anak kalian. Jika suasana tak mudah diredakan, ada baiknya sang ayah menjemput anak di tempat netral seperti sekolah atau restoran. Sementara, ibu menunggu di mobil sampai anak pergi bersama ayahnya.

9. Ucapkan salam dengan senyum

Jangan tunjukkan muka murung saat anak pergi bersenang-senang dengan mantan suami atau istri Anda. Jika anak tahu kedua orangtuanya bermusuhan, dia akan bingung dan merasa bersalah karena melakukan yang seharusnya tak mereka lakukan.

Tersenyumlah ketika anak dijemput mantan Anda, ucapkan ‘sampai bertemu lagi’, tanpa menunjukkan wajah cemberut atau air mata berderai-derai. Ini agar si anak mendapatkan lingkungan yang stabil bersama kedua orangtuanya. Lingkungan yang stabil sangat diperlukan untuk tumbuh kembang mereka.

Itulah cara yang bisa anda lakukan jika keluarga atau orang terdekat anda mengalami masalah dalam hubungan keluarga. Sangat penting untuk menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk akibat perpisahan yang dipilih oleh kedua orang tua mereka. Mereka akan merasa bersalah dan tidak pede untuk bergaul dengan teman-teman dilingkungannya. Semoga info ini dapat bermanfaat.